Senin, 11 Maret 2013

Kasus Sindoro kemarin




Malam pergantian tahun yg lalu puncak sindoro kembali memakan korban, 2 orang pendaki remaja mati karena menghirup gas sulfatara saat menginap di puncak sindoro. Kisah yg kurang lebih sama adalah kasus Torik Kauman Purbalingga beserta 5 orang temannya meninggal di puncak slamet tahun 1993 yang lalu. Kejadiannya hampir sama, menghirup gas beracun.

Semenjak kasus Torik 1993, saya tidak pernah bosan2 mengingatkan bahwa kita harus betul2 disiplin saat naik gunung. Jam 11 siang dalam kondisi apapun harus turun, minimal menjauhi puncak gunung. jangan berlama2 di puncak gunung setelah jam 11 siang. Apalagi saat dipuncak badai, sebaiknya diurungkan niat ke puncak, menunggu badai reda atau jika terlanjur berada dipuncak segera mencari tempat perlindungan atau turun hingga ke daerah hutan/vegetasi.

Artinya secapai apapun kita harus memaksa diri kita untuk segera meninggalkan puncak. MENGAPA ??

Secara periodik gunung terutama gunung berapi itu mengeluarkan materi2 dari dalam perut bumi, lava, batu, pasir, gas, dan lainnya. Gunung yg sudah tidak aktif seperti Sindoro pun masih mengeluarkan gas-gas dari celah atau retakan yg terhubung ke perut bumi.

Keluarnya materi2 tersebut terutama gas, dapat terjadi setiap hari, dan dapat terjadi pada jam berapapun. Nah saat kita di puncak gunung seringkali kita mencium bau gas sulfatara(belerang) yg cukup menyengat tapi kita baik2 saja, kenapa pendaki remaja itu sampai mati?

Begini ceritanya : ulasan diatas menjelaskan tentang perilaku gunung, nah sekarang akan kita bahas kondisi2 yg melingkupi gunung tersebut karena ini sangat berkaitan. 

Dalam kondisi normal kita bisa liat setiap pagi kecenderungan langit cerah, langit biru atau terdapat sedikit awan putih tipis. semakin siang semakin panas, terjadi penguapan besar2 an dilautan, air laut menguap menjadi gumpalan2 awan yg kemudian bergerak dari daerah yg bertekanan udara tinggi (lautan) menuju ke daerah bertekanan udara rendah (pegunungan).

Sehingga sekitar jam 10-11 siang diaerah gunung mulai diliputi awan tebal mengandung uap air. semakin siang semakin pekat awan berat yg mengandung uap air yg melingkupi puncak gunung. 

Dalam kondisi cuaca cerah, gas2 yg keluar dari puncak gunung akan terurai diudara terbawa angin. Saat puncak gunung diliputi awan tebal yg mengandung uap air, mengakibatkan gas2 yg seharusnya teruari di angkasa akan tertahan oleh awan tebal didaerah puncak, semakin banyak gas keluar maka semakin pekat kandungan gas sulfatara yg bercampur dgn udara didaerah puncak, semakin pekat semakin beracun.

Ingat bahwa cuaca cepat sekali berubah didaerah puncak gunung. bisa jadi saat siang hingga sore cuaca terlihat cerah di puncak, sehingga kita berani memutuskan untuk nge camp di puncak. Celakanya saat kita sedang tidur dan cuaca berubah. Puncak diliputi awan tebal, gas keluar, udara pekat dgn gas, dan kita yg nge camp tidur dgn suply oksigen bercampur gas beracun...sekali lagi BABLAS NYAWANE.......

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar